Tabel Periodik

Minggu, 19 September 2010

Fungsi Baru Bagi tRNA


Ketemu! Pengikatan tRNA (bagian tengah, hijau dan kuning) terhadap cytochrome c(merah) ang dilepaskan oleh mitochondrion (kiri) membatasi formasi suatu kompleks yang menaikkan apoptosis (atas kanan).
Temuan terbaru mengindikasikan bahwa transfer RNA (tRNA) mempunyai fungsi lain sebagai tambahan terhadap peranan yang telah ada sekian lama pada pengekspresian gen. tRNA juga membantu mengontrol apoptosis, atau memprogramkan sel mati, menurut sebuah tim yang dipimpin oleh peneliti ahli biologi kanker yaitu Xiaolu Yang pada University of Pennsylvania (Mol. Cell 2010, 37, 668).
Selama pengekspresian gen, DNA dicatat pertama-tama kedalam pemberi pesan RNA. Kemudian, molekul-molekul tRNA—masing-masing membawa asam amino sebagai muatannya—mengikat pada nukleotida pada pemberi pesan RNA. Suatu ribosome menghubungkan asam amino tersebut secara bersama-sama untuk membentuk suatu protein, dan tRNA yang tidak bermuatan sesudah itu dilepaskan.
Sekarang ini, “untuk pertama kalinya, kita menunjukkan bahwa tRNA mempnyai peranan jelas melampaui transmisi informasi genetis,” kata Yang. “Ini sebenarnya memblok apoptosis.”
Apoptosis menghilangkan sel-sel berbahaya, tidak diinginkan dan rusak. Ini dapat dipicu dengan sinyal-sinyal baik dari dalam dan luar sel. Sinyal-sinyal dari dalam, seperti kerusakan DNA, pembangkit tenaga sel yang tepat, atau mitochondria, guna melepaskan cytochrome c kedalam zat cair gas intrasellular, yang dikenal sebagai cytosol. Mitochondria biasanya menggunakan cytochrome c untuk menghasilkan adenosine triphosphate, yang memberi tenaga pada metabolisme. Namun saat dilepaskan kedalam cytosol, sebagai gantinya cytochrome c mengikat pada protein Apaf-1, yang mengaktifkan caspases yang membelah berbagai selular protein, yang pada akhirnya membunuh sel.
Yang, bersama-sama dengan Yide Mei, Jeongsik Yong, dan beberapa kolega lainnya, telah menemukan bahwa tRNA juga mengikat pada cytochrome c, menghentikannya dari pengikatan pada Apaf-1 dan dengan demikian mencegah apoptosis.
Para peneliti telah “membuka mata tingkat yang tidak diperkirakan sepenuhnya tentang  kontrol pada proses apoptotic,” komentar Bram J. van Raam dan Guy S. Salvesen, yang memelajari apoptosis dan sel mati pada Sanford-Burnham Medical Research Institute, di La Jolla, Calif. (Mol. Cell 2010, 37, 591). Raam dan Salvesen menganjurkan bahwa temuan ini juga “mungkin mengindikasikan tingkat kontrol nuklir penting dan baru terhadap metabolisme mitochondrial.”

Sabtu, 11 September 2010

PEMBUATAN GAS HIDROGEN

A. Cara IndustriB. Cara Laboratorium
1. Elektrolisis air yang sedikit diasamkan2H2O (l) 2H2 (g) + O2 (g)
1.Logam (golongan IA/IIA) + air

2K(s) + 2H2O(l) → 2KOH (aq) + H2 (g)

Ca (s) + 2H2O (l) Ca(OH)2 (aq) + H2 (g)
2. 3Fe(pijar) + 4H2O Fe3O42(g) (s) + 4H
2.Logam dengan Eok o > O + asam kuat encer

Zn (s) + 2HCl (aq) ZnCl2 (aq) + H2 (g)

Mg (s) + 2 HCl (aq) MgCl2 (aq) + H2(g)
3. 2C(pijar) + 2H2O (g) 2H2 (g) + 2CO (g)
3.Logam amfoter + basa kuat

Zn (s) + NaOH(aq) Na2ZnO2 (aq) + H2(g)

2Al (s) + 6NaOH (aq) 2Na3AlO3 (aq) + 3H2(g)

Minggu, 05 September 2010

Fakta Tentang 'TELUR REBUS ASIN'


Fakta tentang Telur rebus asin

Pertanyaan:
Saya pernah mencoba membuat telur asin dan menemukan beberapa fakta berikut:
  • Saya merendam telur mentah dalam air garam (1%, 3%, 7% dan air garam jenuh) selama dua setengah hari. Kemudian saya mencicipi rasa asin dari tiap telur setelah mematangkan mereka dalam air garam semula. Tidak satupun dari mereka yang asin. Namun, ketika saya meningalkan telur dalam air garam jenuh selama 24 jam setelah mematangkan mereka, seluruh bagian telur, termasuk putih telur dan kuning telur, menjadi asin.
  • Saya merendam telur mentah dalam cuka selama lima jam kemudian memindahkannya ke dalam air garam jenuh dan menyimpannya selama dua setengah hari. Kemudian saya mencicipi telur-telur itu setelah mematangkan mereka dalam air garam yang sama. Putih telur menjadi sedikit asin dan kuning telur juga asin meski tidak seasin putih telur.
    Apakah hasil ini disebabkan oleh adanya perubahan pada sifat permeabilitas kulit telur dan atau membran kulit? Apakah kulit telur dan atau membran telur berubah dari semi permeabel menjadi permeabel dan membiarkan natrium klorida masuk ke dalam telur?

  • Jawaban:
    Dr. Yukinori Yoshimura, yakni seorang pakar dalam sistem reproduksi unggas, bersedia menjawab pertanyaan tersebut.Pengamatan dan spekulasi Anda tampaknya akurat dan benar. Saya akan memberikan Anda beberapa jawaban singkat terhadap pertanyaan dulu, baru saya menjelaskan secara detil.
    Percobaan pertama
    Kulit telur menjadi permeabel ketika mereka di masak dengan air mendidih. Ketika kulit telur menjadi lebih permeabel, maka kulit telur akan membiarkan zat-zat seperti garam untuk masuk menembus telur. Karenanya, telur menjadi asin ketika mereka direndam dalam air garam setelah dididihkan.
    Percobaan kedua
    Beberapa perubahan fisika terjadi pada kulit telur dan membran kulit ketika telur direndam dalam cuka selama 5 jam. Namun, telur tidak menjadi asin seperti percobaan sebelumnya. Krena cuka menyebabkan kulit telur melepaskan beberapa ion kalsiumnya ke dalam larutan cuka dan menggumpalkan protein, cuka tampaknya merangsang permeabilitas kulit telur. Tetapi, cuka tampaknya tidak mempengaruhi permeabilitas seperti halnya panas pada percoban sebelumnya. Saya juga berpendapat bahwa telur ini tidak menjadi sama asinnya seperti yang sebelumnya karena telur ini belum direndam cukup lama dalam air garam setelah dididihkan.
    Sebuah telur terdiri dari kuning telur yang dilapisi dengan membran kuning telur, putih telur yang tebal dan berair yang dilapisi dengan membran kulit, dan kulit telur. Kulit telur terbuat terutama dari kalsium karbonat dan juga mengandung sedikit zat organik dan anorganik. Kulit telur memiliki banyak pori kecil untuk embrio dalam telur melakukan respirasi (bernafas) ketika sudah dewasa. Kulit telur ditutupi oleh kutikula, yang juga menutupi pori-pori dengan posisi beberapa derajat untuk mencegah jamur masuk ke dalam telur. Kutikula akan hilang ketika telur dicuci dengan air, yang menyebabkan telur busuk lebih cepat. Membran kulit terbuat dari zat seperti kolagen dan memiliki struktur retikulum. Retikulum ini dilapisi oleh protein.
    Ketika telur dididihkan, kutikula hilang dari kulit telur, dan protein menggumpal membentuk struktur kasar. Perubahan ini tampaknya membuat kulit telur, membran kulit dan putih telur menjadi lebih permeabel.
    Ketka telur ditempatkan dalam cuka, kulit telur menjadi lebih permeabel karena kalsium dalam kulit telur dilepaskan ke dalam cuka dan proteinnya menggumpal. Namun, sulit untuk dikatakan bahwa perendaman dalam cuka selama 5 jam adalah cukup lama untuk mengubah permeabilitas kulit telur.
    Akhirnya, izinkan saya memberikan sedikit tips terkait dengan artikel ini. Ketika sebagian telur direndam sebentar dalam alkohol yang termasuk hormon betina-palsu (senyawa kimia pengganggu hormon endokrin), burung yang dilahirkan memiliki ketidaknormalan reproduksi. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa kimia pengganggu endokrin bisa masuk ke dalam telur dari permukaannya.
    Live TV (Mivo TV-RCTI-TRANS TV-SCTV-GLOBAL TV):


    Widget By: Notes The Green Child